Mengapa Es Thwaites Mencair Saat Laut Mendingin?
Mengapa Es Thwaites Mencair Saat Laut Mendingin?
Pencairan es kutub dapat terus berlangsung ketika sebagian wilayah laut mengalami pendinginan. Kedua hal ini tidak bertentangan karena suhu laut berbeda menurut lokasi, musim, kedalaman, dan arus. Air di bawah permukaan bahkan dapat menyimpan panas dan mengalirkannya ke dasar gletser.
Es tidak hanya dipengaruhi suhu udara atau permukaan laut. Arus, angin, retakan, bentuk dasar laut, salju, tekanan air, serta panas yang tersimpan di laut ikut menentukan kestabilan gletser. Respons es juga tertunda. Gletser dapat terus kehilangan massa setelah periode pemanasan berlangsung selama bertahun-tahun.
Istilah “tidak bisa dihentikan” perlu dipahami secara tepat. Pencairan yang telah dipicu perubahan iklim memang sulit dihentikan secara cepat, tetapi lajunya masih dapat diperlambat melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dan penyesuaian wilayah pesisir.
Apa yang Dimaksud dengan “Es Kiamat”?
Gletser Thwaites dan Julukan Populernya
Istilah “es kiamat” biasanya merujuk pada Gletser Thwaites di Antarktika Barat. Sebutan ini bersifat populer dan jurnalistik, bukan istilah ilmiah resmi. Media menggunakannya untuk menggambarkan potensi dampak besar jika gletser mengalami perubahan signifikan.
Thwaites berukuran sangat luas dan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut ketika kehilangan massa. Letaknya juga penting karena berkaitan dengan bagian lain Lapisan Es Antarktika Barat. Jika penahan alami di sekitarnya melemah, perubahan pada Thwaites dapat memengaruhi kestabilan wilayah es yang lebih luas Source 1.
Pencairan satu gletser tidak berarti seluruh dunia akan langsung tenggelam. Kenaikan permukaan laut berlangsung bertahap dan dipengaruhi banyak sumber es, pemuaian air laut, serta perubahan iklim pada masa mendatang. Perhatian terhadap Thwaites merupakan peringatan mengenai risiko jangka panjang bagi wilayah pesisir, bukan ramalan kiamat dalam waktu dekat.
Mengapa Pencairannya Sulit Dihentikan?
Sistem iklim memiliki inersia. Laut menyerap dan menyimpan panas dalam jumlah besar, sedangkan lapisan es berukuran besar memerlukan waktu panjang untuk menyesuaikan diri. Emisi masa lalu juga masih memengaruhi atmosfer dan laut saat ini.
Pencairan dapat diperkuat oleh umpan balik albedo. Es yang putih memantulkan sebagian besar radiasi matahari. Ketika es berkurang, laut atau daratan yang lebih gelap terbuka dan menyerap lebih banyak panas.
Tiga hal perlu dibedakan:
- Menghentikan pencairan secara langsung, yang sulit karena es merespons perubahan iklim dengan jeda waktu.
- Memperlambat pencairan, yang masih mungkin melalui pengurangan pemanasan atmosfer dan laut.
- Mengurangi dampak jangka panjang, melalui pengurangan emisi, perlindungan pesisir, dan tata ruang berbasis risiko.
Perubahan yang telah berjalan tidak dapat dibalik seketika, tetapi setiap pengurangan emisi tetap menentukan besarnya pemanasan dan pencairan tambahan.
Mengapa Es Mencair Saat Laut Mendingin?
Suhu Laut Berbeda Menurut Lokasi dan Kedalaman
Pernyataan “laut makin dingin” dapat merujuk pada wilayah, musim, atau lapisan tertentu. Suhu permukaan laut tidak menggambarkan seluruh kolom air hingga kedalaman tempat gletser bersentuhan dengan laut.
Suhu permukaan dipengaruhi angin, awan, penguapan, curah hujan, pencampuran air, dan musim. Lapisan laut dalam memiliki kondisi berbeda serta dapat menyimpan panas lebih lama. Air di dekat dasar gletser juga belum tentu memiliki suhu yang sama dengan air permukaan.
Pendinginan regional dapat terjadi di tengah kenaikan suhu rata-rata global. Iklim global ditentukan oleh pola jangka panjang dan wilayah yang luas, bukan satu lokasi atau satu periode pengamatan. Karena itu, klaim tentang laut yang lebih dingin perlu menyebutkan lokasi, waktu, kedalaman, dan metode pengukuran.
Arus Membawa Panas ke Bawah Permukaan
Air yang mencairkan dasar gletser tidak selalu merupakan air permukaan yang paling hangat. Arus dapat membawa air yang relatif lebih hangat dari lapisan dalam menuju bagian bawah lapisan es.
Air yang masuk ke rongga di bawah es dapat melelehkan dasar gletser. Pelelehan ini sering tidak terlihat dari permukaan, tetapi dapat mengurangi ketebalan dan kestabilan es. Suhu udara, suhu permukaan laut, suhu laut dalam, suhu air di bawah es, dan suhu pada titik kontak air-es merupakan ukuran yang berbeda.
Suhu permukaan yang turun tidak membuktikan bahwa seluruh air di bawahnya ikut mendingin. Perbedaan kepadatan dan arus dapat memindahkan energi secara vertikal maupun horizontal.
Panas Tersimpan Menunda Respons Es
Laut berfungsi sebagai penyimpan panas raksasa. Atmosfer dapat mendingin dalam waktu singkat, sedangkan laut membutuhkan waktu lebih lama untuk kehilangan energi yang telah diserapnya.
Seperti panci yang baru diangkat dari kompor, permukaan laut dapat mulai mendingin sementara bagian dalamnya masih menyimpan panas. Air bergerak dan bercampur dengan cara yang kompleks, tetapi prinsipnya sama: pendinginan sementara di permukaan tidak langsung menghilangkan panas di bawahnya.
Faktor Lain yang Memengaruhi Pencairan
Stabilitas gletser juga dipengaruhi oleh:
- arus laut di bawah es;
- angin dan distribusi salju;
- retakan pada lapisan es;
- tekanan air di bawah gletser;
- bentuk dasar laut;
- jumlah salju baru;
- hujan dan lelehan permukaan;
- kekuatan struktur penahan gletser.
Lereng atau cekungan dasar laut tertentu dapat membantu air yang lebih hangat mencapai bagian bawah es. Gletser juga dapat kehilangan massa ketika salju yang masuk lebih sedikit daripada es yang hilang.
Kutub Selatan dan Kutub Utara Berbeda
Antarktika merupakan benua yang dikelilingi laut, sedangkan Arktik merupakan lautan yang dikelilingi daratan. Perbedaan geografis ini memengaruhi perpindahan panas, pola angin, arus, dan pembentukan es.
Di sekitar Antarktika, laut terbuka dapat membeku secara musiman ketika suhu turun. Angin juga dapat mendorong es menjauh dari pesisir dan membuka ruang bagi pembentukan es baru. Arktik berada di cekungan laut yang dibatasi daratan sehingga sirkulasi air dan pergerakan esnya berbeda.
Pengaruh musim, bentuk benua, awan, salju, dan durasi sinar matahari turut menentukan waktu pembekuan. Karena itu, Kutub Selatan dapat menunjukkan pembekuan lebih awal dalam kondisi tertentu tanpa berarti perubahan iklim global berhenti Source 3.
Es laut yang terbentuk pada musim dingin berbeda dari es daratan. Es laut mengapung dan dapat mencair kembali pada musim panas, sedangkan lapisan es daratan menyimpan air beku dalam waktu jauh lebih lama. Pembekuan musiman tidak otomatis mengembalikan massa gletser.
Apakah Ini Tanda Kiamat?
“Kiamat” memiliki makna keagamaan dan sosial yang berbeda dari istilah ilmiah. Dalam media, kata ini sering menjadi metafora untuk ancaman besar atau perubahan ekstrem.
Dalam sains, pencairan satu gletser tidak digunakan untuk menetapkan tanggal kiamat. Peneliti mengukur perubahan massa es, kenaikan permukaan laut, suhu, arus, dan kemungkinan dampak berdasarkan data serta model. “Gletser kiamat” lebih tepat dipahami sebagai bahasa populer untuk menekankan potensi dampak global, bukan ramalan pasti Source 1.
Kesimpulan ilmiah yang dapat dipertahankan ialah pencairan gletser nyata, kenaikan permukaan laut mengancam pesisir, sistem laut dan es merespons secara terlambat, kondisi lokal dapat berbeda dari tren global, dan pengurangan emisi tetap penting.
Dampak Pencairan Es
Kenaikan Permukaan Laut
Es daratan yang mencair menambah volume air ke laut. Hal ini berbeda dari es laut yang sudah mengapung. Kenaikan permukaan laut dapat meningkatkan risiko banjir rob, erosi pantai, intrusi air laut, kerusakan infrastruktur, hilangnya lahan rendah, dan perpindahan masyarakat pesisir.
Permukaan laut juga naik akibat pemuaian air karena pemanasan. Pencairan es hanyalah salah satu bagian dari persoalan yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan pesisir.
Gangguan Ekosistem dan Arus Laut
Pencairan es daratan menambah air tawar ke laut dan dapat memengaruhi salinitas. Suhu dan salinitas menentukan kepadatan air, sedangkan kepadatan berperan dalam sirkulasi laut.
Perubahan sirkulasi berpotensi mengganggu habitat, rantai makanan, migrasi, dan produktivitas perikanan. Dampaknya berbeda menurut wilayah sehingga proyeksi memerlukan model dan data khusus.
Risiko bagi Indonesia
Indonesia memiliki garis pantai panjang. Kota pesisir, pulau kecil, tambak, pelabuhan, dan permukiman rendah dapat menghadapi risiko banjir rob serta abrasi yang lebih besar. Intrusi air laut juga dapat mengancam sumber air tawar.
Kerentanan setiap daerah dipengaruhi kondisi tanah, penurunan muka tanah, bentuk pantai, ekosistem pelindung, dan tata ruang. Kebijakan perlu menggabungkan data iklim, pemantauan pesisir, perlindungan ekosistem, serta perencanaan infrastruktur.
Cara Memperlambat Pencairan
Mengurangi Emisi
Pengurangan emisi tidak langsung membekukan kembali semua es. Manfaatnya adalah memperlambat kenaikan suhu, mengurangi pemanasan laut, membatasi pencairan tambahan, dan menurunkan risiko jangka panjang.
Sumber emisi utama meliputi energi fosil, transportasi, industri, dan perubahan penggunaan lahan. Peralihan energi, efisiensi, perlindungan hutan, dan pengurangan emisi lintas sektor dapat memengaruhi lintasan pemanasan.
Beradaptasi di Wilayah Pesisir
Langkah adaptasi dapat mencakup perlindungan pantai, pemulihan mangrove, tata ruang berbasis risiko, sistem peringatan dini, peningkatan drainase, dan perlindungan sumber air tawar.
Pemerintah serta masyarakat perlu memantau perubahan garis pantai, banjir rob, penurunan muka tanah, dan kondisi ekosistem. Infrastruktur baru sebaiknya mempertimbangkan proyeksi kenaikan muka laut, bukan hanya kondisi saat ini.
Memeriksa Data
Sebelum menerima klaim tentang es kutub, periksa periode pengamatan, lokasi, kedalaman, jenis es, serta sumber data. Bedakan suhu permukaan laut dari suhu laut dalam, es laut dari es daratan, dan pengamatan satu musim dari tren puluhan tahun.
Kesimpulan
Laut yang lebih dingin di permukaan atau wilayah tertentu tidak otomatis menghentikan pencairan es. Arus bawah laut, panas tersimpan, angin, retakan, salju, dan bentuk dasar laut tetap dapat memengaruhi gletser.
Istilah “es kiamat” menggambarkan besarnya risiko Gletser Thwaites dan wilayah pesisir, bukan kepastian bahwa kiamat akan segera terjadi. Ancaman kenaikan permukaan laut nyata, tetapi dampaknya masih dapat dikurangi melalui pengurangan emisi, perlindungan pesisir, pemulihan mangrove, dan perencanaan berbasis data.
FAQ
Apakah es bisa mencair ketika suhu laut di permukaan turun?
Bisa. Suhu permukaan tidak selalu mewakili kondisi air di bawah laut atau di sekitar dasar gletser. Arus dapat membawa air yang relatif lebih hangat ke bawah permukaan.
Apa yang dimaksud dengan “es kiamat”?
“Es kiamat” merupakan julukan populer untuk Gletser Thwaites di Antarktika Barat. Istilah ini menyoroti potensi dampaknya, bukan berarti kiamat akan segera terjadi.
Mengapa pembekuan Kutub Selatan tidak berarti perubahan iklim berhenti?
Pembekuan dapat bersifat musiman dan terjadi di wilayah tertentu. Perubahan iklim harus dinilai menggunakan data jangka panjang tentang suhu, luas es, massa gletser, dan kondisi laut.
Apakah pencairan Thwaites akan langsung menenggelamkan dunia?
Tidak. Pencairan gletser berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut yang berlangsung bertahap. Dampaknya bergantung pada laju pencairan dan perubahan iklim berikutnya.
Apakah pencairan es tidak bisa dihentikan sama sekali?
Pencairan yang telah dipicu perubahan iklim sulit dihentikan dalam waktu singkat, tetapi pengurangan emisi dapat memperlambat proses dan mengurangi risikonya.
Apa yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia?
Masyarakat dapat menghemat energi, mendukung pengurangan emisi, menjaga mangrove, mengurangi kerusakan pesisir, mengikuti informasi banjir rob, dan mendukung tata ruang berbasis data.