5 Kelompok Berisiko Gejala Berat Influenza Tipe A
5 Kelompok Berisiko Gejala Berat Influenza Tipe A
Influenza tipe A merupakan infeksi saluran pernapasan yang dapat menyebabkan demam, batuk, nyeri tenggorokan, pilek, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Sebagian besar penderita pulih dengan perawatan di rumah. Namun, infeksi ini dapat menjadi lebih berat pada kelompok tertentu.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian meliputi anak-anak, terutama bayi dan balita; lansia; ibu hamil dan ibu setelah melahirkan; orang dengan penyakit kronis; serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Kementerian Kesehatan mengingatkan potensi kenaikan kasus influenza A di Indonesia setelah peningkatan kasus terlihat di kawasan Asia Tenggara. Informasi tersebut diberitakan pada 17 Oktober 2025. Sumber 1
Apa Itu Influenza Tipe A?
Influenza tipe A disebabkan oleh virus influenza A yang menyerang saluran pernapasan. Virus ini dapat menyebar melalui percikan pernapasan saat seseorang batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Penularan juga dapat terjadi melalui partikel udara dalam kondisi tertentu serta tangan atau permukaan yang terkontaminasi.
Tingkat keparahan influenza tidak selalu sama. Usia, kehamilan, kondisi kesehatan, status kekebalan tubuh, dan kecepatan mendapatkan pertolongan dapat memengaruhi perjalanan penyakit.
Gejala influenza tipe A
Gejala dapat muncul secara tiba-tiba dan meliputi:
- Demam atau menggigil.
- Batuk, sering kali berupa batuk kering.
- Nyeri tenggorokan.
- Hidung tersumbat atau pilek.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot dan badan.
- Kelelahan.
- Nafsu makan menurun.
- Muntah atau diare, terutama pada sebagian anak.
Tidak semua penderita mengalami demam. Pada lansia dan orang dengan respons kekebalan tubuh tertentu, gejalanya dapat tidak khas. Karena itu, tidak adanya demam tidak selalu menyingkirkan kemungkinan influenza.
Mengapa influenza dapat menjadi berat?
Virus influenza dapat menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan dan paru-paru. Infeksi juga dapat memperburuk asma, penyakit paru, penyakit jantung, atau diabetes.
Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi pneumonia, dehidrasi, infeksi bakteri sekunder, perburukan penyakit kronis, gangguan jantung, dan gangguan organ pada kasus berat. Sumber 2
Lima Kelompok yang Berisiko Mengalami Gejala Berat
1. Anak-anak, terutama bayi dan balita
Sistem kekebalan tubuh bayi dan balita masih berkembang. Mereka juga belum selalu mampu menyampaikan keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, pusing, atau kelemahan berat.
Risiko komplikasi dapat meningkat pada anak dengan asma, penyakit jantung bawaan, penyakit paru, gangguan saraf, kelainan metabolik, atau gangguan sistem kekebalan tubuh.
Orang tua perlu segera mencari pertolongan jika anak mengalami napas cepat, tarikan dinding dada, suara napas tidak biasa, kesulitan bernapas, atau bibir dan wajah kebiruan. Tanda lain yang perlu diwaspadai meliputi:
- Tidak mau minum.
- Buang air kecil jauh lebih sedikit.
- Sangat lemas atau sulit dibangunkan.
- Kejang.
- Demam disertai ruam.
- Gejala sempat membaik, lalu memburuk kembali.
- Tidak responsif atau mengalami perubahan perilaku mendadak.
Jangan memberikan obat tanpa memperhatikan usia, berat badan, dosis, dan anjuran tenaga kesehatan.
2. Lansia, terutama berusia 65 tahun ke atas
Respons sistem kekebalan tubuh cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Lansia juga lebih mungkin memiliki penyakit penyerta yang memburuk saat terjadi infeksi.
Gejalanya tidak selalu berupa demam tinggi. Influenza dapat terlihat sebagai kebingungan mendadak, penurunan kesadaran, kelemahan berat, gangguan keseimbangan, atau penurunan nafsu makan.
Keluarga perlu memantau kesadaran, pola pernapasan, asupan cairan, frekuensi buang air kecil, kemampuan berjalan, serta perubahan perilaku. Konsultasikan gejala sejak awal, terutama jika lansia memiliki penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, penyakit ginjal, atau menggunakan obat yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
3. Ibu hamil dan ibu setelah melahirkan
Kehamilan menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan tubuh, jantung, dan paru-paru. Perubahan tersebut dapat meningkatkan risiko influenza berat pada usia kehamilan berapa pun. Ibu setelah melahirkan juga perlu berhati-hati, terutama selama pemulihan fisik.
Risiko dapat meningkat jika ibu memiliki asma, diabetes, penyakit jantung, penyakit paru, obesitas, atau penyakit kronis lain.
Segera cari pertolongan medis jika terjadi sesak napas, nyeri atau tekanan di dada, demam menetap, muntah terus-menerus, atau tidak mampu mempertahankan asupan cairan. Berkurangnya gerakan janin, kontraksi, dan perdarahan juga memerlukan pemeriksaan.
Konsultasikan penggunaan obat penurun demam, obat batuk, obat pilek, atau antivirus kepada dokter. Jangan menghentikan obat rutin tanpa arahan tenaga kesehatan.
4. Orang dengan penyakit kronis
Influenza dapat memperburuk kondisi seperti:
- Asma atau penyakit paru obstruktif kronis.
- Penyakit jantung.
- Diabetes.
- Penyakit ginjal.
- Penyakit hati.
- Gangguan saraf tertentu.
- Kelainan metabolik.
- Penyakit kronis lain yang dinilai berisiko oleh dokter.
Pada penderita asma, influenza dapat memicu serangan. Pada penderita diabetes, demam dan infeksi dapat membuat kadar gula darah lebih sulit dikendalikan. Influenza juga dapat meningkatkan beban kerja jantung.
Perhatikan sesak, nyeri dada, jantung berdebar, pembengkakan tungkai, penurunan kemampuan beraktivitas, perubahan kadar gula darah yang drastis, atau memburuknya penyakit dasar. Tetap ikuti pengobatan rutin dan hubungi tenaga kesehatan jika obat tidak dapat diminum atau muntah terjadi berulang.
5. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah
Sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat membuat tubuh lebih sulit mengendalikan virus influenza. Infeksi dapat berlangsung lebih lama, menimbulkan gejala tidak khas, atau menyebabkan komplikasi lebih cepat.
Kelompok ini dapat meliputi:
- Pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
- Penerima transplantasi organ.
- Orang yang menggunakan obat penekan sistem kekebalan tubuh.
- Orang dengan kondisi imunodefisiensi tertentu.
- Pasien yang menjalani terapi khusus berdasarkan penilaian dokter.
Gejala ringan sekalipun perlu diperhatikan. Tidak adanya demam tinggi tidak selalu berarti infeksi tidak serius. Hubungi dokter sesegera mungkin jika muncul batuk, lemas, penurunan nafsu makan, sesak, atau penurunan kesadaran.
Tanda Bahaya Influenza
Pada orang dewasa
Segera cari pertolongan medis jika penderita mengalami:
- Sesak napas atau napas terasa berat.
- Nyeri atau tekanan menetap di dada.
- Bibir atau wajah kebiruan.
- Kebingungan atau sulit dibangunkan.
- Pusing berat atau tubuh tidak stabil.
- Tidak buang air kecil dalam waktu lama.
- Kelemahan berat.
- Kejang.
- Demam dan batuk yang sempat membaik, lalu memburuk.
- Penyakit kronis yang sulit dikendalikan.
Pada anak
Tanda bahaya pada anak meliputi napas cepat, sulit bernapas, tarikan dinding dada, kulit atau wajah kebiruan, tidak mau minum, buang air kecil berkurang, sangat mengantuk, tidak responsif, kejang, demam sesuai batas usia yang memerlukan pemeriksaan segera, demam disertai ruam, atau gejala yang kembali memburuk setelah sempat membaik.
Kelompok rentan sebaiknya berkonsultasi sejak gejala influenza muncul dan tidak menunggu sampai kondisi memburuk.
Komplikasi Influenza Tipe A
Pneumonia
Pneumonia dapat disebabkan langsung oleh virus influenza atau infeksi bakteri sekunder. Gejalanya meliputi sesak napas, batuk yang memburuk, demam berulang, nyeri dada, napas cepat, dan kelemahan berat.
Perburukan penyakit kronis
Influenza dapat memperparah asma, penyakit paru, penyakit jantung, dan diabetes. Karena itu, penderita perlu memantau perubahan penyakit dasarnya selain gejala influenza.
Dehidrasi
Demam, keringat berlebih, muntah, dan diare dapat mengurangi cairan tubuh. Tanda dehidrasi meliputi mulut kering, buang air kecil berkurang, urine berwarna lebih gelap, pusing, lemas, dan mengantuk.
Komplikasi lain
Komplikasi lain dapat berupa infeksi telinga atau sinus, peradangan otot, gangguan saraf yang jarang terjadi, gagal napas, serta gangguan organ pada kasus berat.
Cara Mengurangi Risiko Gejala Berat
Vaksinasi influenza
Vaksinasi membantu menurunkan risiko influenza berat dan komplikasi. Vaksin tidak menjamin seseorang terbebas dari infeksi, tetapi dapat mengurangi keparahan penyakit.
Kelompok rentan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai jadwal vaksinasi yang sesuai dengan usia, kehamilan, penyakit penyerta, kondisi kekebalan tubuh, dan riwayat vaksinasi.
Menjaga kebersihan
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
- Gunakan pembersih tangan jika air dan sabun tidak tersedia.
- Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dibersihkan.
- Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin.
- Bersihkan permukaan yang sering disentuh.
Mengurangi penularan saat sakit
Orang yang mengalami gejala sebaiknya beristirahat di rumah dan mengurangi kontak dekat dengan orang lain. Gunakan masker jika harus berada di dekat anggota keluarga atau pergi untuk mendapatkan perawatan.
Hindari kontak dekat dengan bayi, lansia, ibu hamil, dan orang dengan kekebalan tubuh lemah. Jangan berbagi alat makan, gelas, handuk, atau barang pribadi.
Menjaga kondisi tubuh
Cukupi cairan, istirahat, dan konsumsi makanan bergizi sesuai kemampuan. Penderita penyakit kronis perlu mengikuti rencana pengobatan dari dokter.
Antibiotik tidak mengobati influenza karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Dokter hanya memberikan antibiotik jika terdapat dugaan atau bukti infeksi bakteri yang menyertai.
Mitos dan Fakta
Influenza selalu sama dengan flu biasa
Fakta: Influenza dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan.
Jika tidak demam, berarti bukan influenza
Fakta: Sebagian penderita influenza tidak mengalami demam, terutama lansia atau orang dengan respons kekebalan tubuh tertentu.
Antibiotik dapat menyembuhkan influenza
Fakta: Antibiotik bekerja terhadap bakteri, bukan virus. Penggunaannya memerlukan penilaian dokter.
Semua penderita influenza harus dirawat di rumah sakit
Fakta: Banyak penderita pulih di rumah dengan istirahat dan pemantauan. Kelompok rentan atau pasien dengan tanda bahaya memerlukan penilaian tenaga kesehatan.
Kesimpulan
Lima kelompok yang berisiko mengalami gejala berat saat terkena influenza tipe A adalah:
- Anak-anak, terutama bayi dan balita.
- Lansia, terutama berusia 65 tahun ke atas.
- Ibu hamil dan ibu setelah melahirkan.
- Orang dengan penyakit kronis.
- Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi berat. Namun, kelompok tersebut memerlukan pemantauan lebih awal. Sesak napas, nyeri dada, dehidrasi, perubahan kesadaran, bibir kebiruan, kejang, dan memburuknya penyakit penyerta memerlukan pertolongan medis.
Pencegahan mencakup vaksinasi sesuai anjuran, kebersihan tangan, penggunaan masker saat sakit, pembatasan kontak dengan kelompok rentan, istirahat cukup, dan konsultasi sejak gejala awal muncul. Sumber 3
Tanya Jawab
Apa saja lima kelompok yang berisiko mengalami gejala berat akibat influenza tipe A?
Kelompok tersebut meliputi anak-anak, terutama bayi dan balita; lansia; ibu hamil dan ibu setelah melahirkan; orang dengan penyakit kronis; serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Apakah influenza tipe A berbahaya bagi semua orang?
Tidak semua penderita mengalami kondisi berat. Risiko komplikasi lebih tinggi pada kelompok rentan dan orang yang memiliki penyakit penyerta.
Apa tanda influenza tipe A yang harus segera diperiksakan?
Sesak napas, nyeri dada, kebingungan, kelemahan berat, tanda dehidrasi, bibir kebiruan, kejang pada anak, serta gejala yang sempat membaik lalu kembali memburuk memerlukan pertolongan medis.
Apakah penderita influenza tipe A boleh minum antibiotik?
Antibiotik tidak mengobati virus influenza. Obat tersebut hanya digunakan jika dokter menemukan atau mencurigai infeksi bakteri yang menyertai.
Bagaimana cara mencegah komplikasi influenza tipe A?
Lakukan vaksinasi sesuai rekomendasi, cuci tangan, gunakan masker saat sakit, hindari kontak dengan kelompok rentan, cukup beristirahat, dan konsultasikan gejala yang memburuk.
Kapan kelompok rentan harus menghubungi dokter?
Kelompok rentan sebaiknya menghubungi dokter sejak gejala influenza muncul, terutama jika pasien masih sangat muda atau sudah lanjut usia, sedang hamil, memiliki penyakit kronis, atau menggunakan obat yang menekan sistem kekebalan tubuh.